Ramadhan tidak lama lagi, Mari kita senantiasa Setting NIAT, Upgrade IMAN, Download SABAR, Delete DOSA, Approve MAAF & Hunting PAHALA. Agar Kita Getting GUEST LIST Masuk SURGA-Nya. Pulang ke kampung SURGA. Yuuukkk mari ,,, ! Pakai Mobil JIHAD yang Berbahan Bakar ISTIQOMAH, dengan Sopir KEIKHLASAN, Lewat Jalan IMAN,,eettt jangan lupa bawa peta QUR"AN & SUNNAH, juga Bekal TAQWA....Semoga Qta ketemu disana, amin.Kini Ramadhan akan tiba 10 hari lagi, dengan kerendahan hati maafkanlah segala kesalahan. MARHABAN YA RAMADHAN. "Allahumma Bariklana fi Rajab wa Sya'bana Wa Balligna Ramadhan" Selamat mempersiapkan diri tuk sambut ibadah puasa 1429 H. Mari kita kuatkan Iman, bersama menyongsong Bulan penuh Rahmah, Maghfirah dan Barokah
penasaran nih.....Marhaban Ya Ramadhan
Kamis, Agustus 21, 2008
Diposting oleh
Muhidin Saimin
di
18.55
0
komentar
Label: Renungan
Kiat-Kiat Agar Suami Disayang Isteri
Jumat, Maret 28, 2008
Kiat-kiat ini diambil dari dhuha.net oleh : Adil Fathi Abdillah
Diposting oleh
Muhidin Saimin
di
21.08
0
komentar
Label: Renungan
No Title
Jumat, Januari 18, 2008
copy paste from : arifkurniawan.wordpress.com Silahkan baca langsung. Hasil dari gibransyah - mas eko - arifkurniawan
—————————————————————–
One Day at Musolah
Suatu hari, di Cilincing, saya ketemu dengan Mas Kabul, kakak kelas saya dulu. Waktu itu, saya sedang membantu anak-anak musolah membuat bulletin jumat, koran-koranan yang diedarkan pada setiap hari jumat sebelum solat jumat.
Wah betapa bangganya saya ketemu Mas Kabul ketika sedang membantu anak-anak musolah merancang dan menerbitkan bulletin jumat. Hati saya berdegup kencang karena jumawa. Dalam hati, saya bilang, ‘ini waktunya gue nyombong ama Mas Kabul’. Saya ingin menunjukkan pada Mas Kabul, bahwa saya ini sudah ‘pintar’ dan ‘rendah hati’.
Jelas pintar dan rendah hatinya pakai tanda kutip. Sebab saya ingin menunjukkan kehebatan saya kepadanya. Saya ingin sombong. Saya ingin dianggap hebat oleh Mas Kabul. Rasa ingin dipuja tiba-tiba meruyak begitu saja.
Dan mata saya semakin berbinar-binar melihat Mas Kabul terkagum-kagum melihat software canggih di komputer kami. Ketika ia melihat anak-anak musolah pandai sekali memainkan alat bernama keyboard dan mouse untuk membuat bulletin jumat. Hidung saya kembang kempis karena bangga.
Lalu Mas Kabul bertanya, “Loh Rip. Musolah kampung ini kaya sekali. Bisa membeli perangkat lunak dan program mahal di komputer ini. Ndak mubazir?”
Saya kaget.
Bukan karena ia bertanya sambil make sarung dan sarungnya mau melorot copot. Tapi kaget karena pertanyaannya aneh.
- “Mas Kabul, sistem windows dan word kan murah. Lima ribu perak doang per CD”
+ “Itu bajakan rip”
- “Tapi kan nggak apa-apa demi mencerdaskan anak bangsa. Sistem komputer bajakan ini punya Bill Gates, bos perusahaan komputer. Orang paling kaya sedunia, Mas. Dan dunia ini sudah sedemikian kapitalis. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin dan bodoh. Bukan karena tidak mau belajar, tapi sistemlah yang memaksa orang miskin menjadi bodoh”
Mulut saya makin berapi-api. Memberikan kuliah pada Mas Kabul. Namun isinya bukan menekankan betapa pentingnya pendidikan buat anak bangsa. Melainkan, saya membela harga diri saya yang nampaknya akan hancur lebur di hadapan anak muda musolah.
Saya bawa semua teori. Mulai dari teori kepemilikan marxis hingga ayat-ayat quran yang sosialis. Semuanya demi membela harga diri saya yang benar-benar berantakan akibat Mas Kabul bilang bahwa komputer musolah yang kami pakai ‘dipertanyakan kehalalannya’.
Mas Kabul diam saja. Dengan tenang ia menjawab semua logika saya dalam kalimat “Rip, liat tuh tulisan KEBERSIHAN SEBAGIAN DARI IMAN di WC musolah. Liat ga? Itu ajakan untuk berbuat kebaikan, Rip. Semua orang juga mengerti artinya. Tapi coba kamu pikir, gimana kalau tulisan untuk berbuat kebaikan ternyata ditulis pakai barang curian? Gimana kalau itu ditulis pakai spidol dan papan colongan?”
Saya tidak bisa menjawab. Analogi Mas Kabul menusuk kalbu.
Saya diam cukup lama. Muka saya merah padam menanggung malu. Harga diri saya hancur lebur lantak tak bersisa. Maksud hati ingin di puja ternyata malah menanggung malu yang luar biasa.
Di depan ‘murid-murid musolah’, saya salah tingkah. Tidak tahu harus berbuat apa. Rasanya pengen kabur sejauh-jauhnya. Maluuu..
Setelah lama terdiam. Mengumpulkan sisa-sisa keberanian yang secuil di hati, saya beranikan diri bertanya.
- “Mas, saya malu. Maaf. Saya takabur. Jadi apa yang semestinya saya ajarin buat anak musolah, Mas Kabul”
+ “Kalau kamu tidak tahu alternatifnya. Tidak apa-apa, Rip”
- “Loh apakah ada cara belajar komputer alternatif tanpa harus jadi maling, Mas?”
+ “Ada… Pakai Linux”
Sejak saat itu, saya berguru pada Mas Kabul. Berguru menggunakan Linux. Cukup susah. Sebab tampilannya masih memakai Terminal, mirip komputer purbakala.
Namun tahun berganti. Linux tidak lagi mirip komputer zaman dinosaurus. Sudah ada sistem komputer Linux yang cantik dan ramah bernama Ubuntu. Dan yang paling penting adalah, mudah digunakan, sebab menggunakan tampilan berbahasa Indonesia.
Bahkan kini, beberapa pemuda nan pintar dari Indonesia sudah membuat Sistem Operasi komputer nan canggih namun mudah digunakan berbasis Ubuntu. Nama sistem operasinya, BlankON.
Beberapa hari di awal-awal tahun 2008 ini, saya kok keingetan Mas Kabul. Ketika saya belajar Linux, beliau pernah berkata pada saya “Rip, belajar Linux itu tidak hanya membuat kamu tambah pinter. Dan bahkan tidak pula hanya mengurangi dosa dengan tidak memakai barang curian. Tapi juga menghargai orang-orang yang telah bekerja keras membuat sopwer”.
Saya tiba-tiba punya mimpi. Muluk-muluk mimpinya. Saya kepingin punya sekolah yang mengajarkan Linux pada anak-anak Indonesia. Bukan karena strategi bisnis. Atau apalagi niat jumawa bin takabur seperti kasus di musolah bertahun-tahun lalu. Saya hanya kepingin, anak-anak Indonesia punya ‘pilihan’.
Dari Mas Kabul, saya belajar bahwa dalam hidup manusia berhak punya pilihan.
Dan alam sadar ini terbawa-bawa dalam mimpi. Saya ingin juga anak-anak Indonesia generasi mendatang punya pilihan.
Diantaranya; termasuk memilih untuk tidak menjadi pencuri.
Saya terus bermimpi.
Semakin lama, mimpi ini semakin mengganggu tidur saya.
—————————————————————–
Diposting oleh
Muhidin Saimin
di
14.00
0
komentar
Label: Renungan
Semenit Saja
Selasa, Januari 15, 2008

Sebuah renungan !!! dari seorang kawan di millist
Betapa lamanya melayani Allah selama lima belas menit namun betapa singkatnya kalau kita melihat film.
betapa sulitnya untuk mencari kata-kata ketika berdoa (spontan) namun betapa mudahnya kalau mengobrol atau bergosip dengan pacar / teman tanpa harus berpikir panjang-panjang.
Betapa asyiknya apabila pertandingan bola diperpanjang waktunya ekstra namun kita mengeluh ketika khotbah di masjid lebih lama sedikit daripada biasa. Betapa sulitnya untuk membaca satu lembar Al-qur'an tapi betapa mudahnya membaca 100 halaman dari novel yang laris.
Betapa getolnya orang untuk duduk di depan dalam pertandingan atau konser namun lebih senang berada di saf paling belakang ketika berada di Masjid
Betapa Mudahnya membuat 40 tahun dosa demi memuaskan nafsu birahi semata, namun langkah sulitnya ketika menahan nafsu selama 30 hari ketika berpuasa.
Betapa sulitnya untuk menye diakan waktu untuk sholat 5 waktu; namun betapa mudahnya menyesuaikan waktu dalam sekejap pada saat terakhir untuk event yang menyenangkan.
Betapa sulitnya untuk mempelajari arti yang terkandung di dalam al qur'an; namun betapa mudahnya untuk mengulang-ulangi gosip yang sama kepada orang lain.
Betapa mudahnya kita mempercayai apa yang dikatakan oleh koran namun betapa kita meragukan apa yang dikatakan oleh Kitab Suci AlQuran.
Betapa Takutnya kita apabila dipanggil Boss dan cepat-cepat menghadapnya namun betapa kita berani dan lamanya untuk menghadapNya saat kumandang azan menggema.
Betapa setiap orang ingin masuk sorga seandainya tidak perlu untuk percaya atau berpikir,atau mengatakan apa-apa,atau berbuat apa-apa. Betapa kita dapat menyebarkan seribu lelucon melalui e-mail, dan menyebarluaskannya dengan FORWARD seperti api; namun kalau ada mail yang isinya tentang Kerajaan Allah betapa seringnya kita ragu-ragu, enggan membukanya dan mensharingkannya, serta langsung klik pada icon DELETE.
ANDA TERTAWA ...? atau ANDA BERPIKIR-PIKIR. ..? Sebar luaskanlah Sabda-Nya, bersyukurlah kepada ALLAH, YANG MAHA BAIK,PENGASIH DAN PENYAYANG. Apakah tidak lucu apabila anda tidak memFORWARD pesan ini. Betapa banyak orang tidak akan menerima pesan ini, karena anda tidak yakin bahwa mereka masih percaya akan sesuatu?
Maha suci Allah yang Maha Tinggi Yang kepadanyalah setiap yang hidup akan kembali
Diposting oleh
Muhidin Saimin
di
13.31
1 komentar
Label: KPLI Depok, Renungan
Bangkitlah Kamu Atau Kusuntik Mati Saja
Senin, September 24, 2007
Judulnya agak terlalu kejam. Mohon maaf Bapak, Ibu, dan Saudara yang
budiman, sebab saya punya alasan. Untuk setiap kegagalan dan
keterpurukan, memang diperlukan perlakuan yang istimewa. Jika jatuhnya
dalam, maka perlu waktu lama untuk sampai kembali ke bibir jurang.
Jika tenggelamnya sampai ke dasar, maka butuh energi besar untuk
kembali ke permukaan.
Berkaitan dengan kegagalan dan keterpurukan, kata-kata bisa menjadi
penyemangat, atau malah jadi racun yang lebih mematikan. Ia bisa
membangkitkan, atau malah bisa fatal karena terlanjur disuntikkan.
DARI SETBACK MENJADI COMEBACK
Tips berikut ini berasal dari materi oleh Herbert Gordon. Isinya
tentang bagaimana sebuah kebangkitan bisa diciptakan, setelah
terlanjur jatuh dan terpuruk. Anda mungkin pernah mengalaminya. Anda
mungkin akan mengalaminya. Anda mungkin sedang mengalaminya. Ingatlah
baik-baik tips ini, agar Anda bisa segera bangkit kembali, tak terlalu
lama setelah terpuruk dan jatuh.
IDENTIFIKASI APA YANG BISA ANDA KONTROL DAN YANG TIDAK
Buatlah dua buah daftar atau inventori, yang satu berisi berbagai hal
yang bisa Anda kontrol, dan yang satu lagi berisi hal-hal yang tidak
bisa Anda kontrol. Berbagai hal itu, adalah segala sesuatu yang
(mestinya) bisa membantu Anda mencapai kesuksesan atau keberhasilan.
Ingatlah bahwa sebagian besar "sebab" pada dasarnya bisa Anda kontrol,
dan sebagian besar "akibat" memang tidak bisa Anda kontrol.
Misalnya, berlatih olahraga bulutangkis sekeras mungkin, atau
melakukan prospecting penjualan asuransi sebanyak mungkin, berada
dalam kontrol Anda.
Tapi, menjadi juara pertama dalam olahraga bulutangkis dengan segala
kualifikasinya, atau mencapai omzet penjualan asuransi terbesar
se-Indonesia, adalah di luar kontrol Anda.
Jika sesuatu berada di dalam kontrol Anda, Anda boleh menyesal karena
tidak memaksimalkannya. Sebaliknya, jika sesuatu tidak berada di dalam
kontrol Anda, maka Anda harus mau merelakannya.
Lakukanlah inventori dan identifikasi ini dengan obyektif dan tidak
terjebak pada blame game.
DARI BITTER MENJADI BETTER
Jika Anda seperti kebanyakan orang lain, maka ketahuilah bahwa
kritikus paling ulung bagi diri Anda, adalah diri Anda sendiri.
Kata-kata dan pikiran Anda, sering Anda jadikan cambuk yang terus
memecut perasaan Anda. Keduanya, berubah menjadi kata buruk dan
pikiran buruk. Lebih buruk lagi, atas kata dan pikiran buruk itu, Anda
pecut lagi dengan kata buruk dan pikiran buruk berikutnya. Demikian
seterusnya. Bagaimanakah buruknya perasaan Anda karena semua itu?
"Ah, saya gagal lagi."
"Saya memang bodoh."
"Ya gusti... mengapa saya kok bodoh sekali."
You feel bad about feel bad.
Lupakan apa pun yang tak bisa Anda kontrol. Dan jika Anda menemukan
ada hal yang (mestinya) bisa Anda kontrol, segeralah meng-assess
pikiran dan perasaan Anda saat itu juga.
"Ya, Elu enak aja Pak Sopa bisa ngomong gitu. Pan Gua nyang ngalamin!
Elu kagak!"
Ya. Anda benar. Dan satu-satunya sebab bahwa Anda tidak bisa mengganti
ungkapan itu dengan sesuatu yang lebih positif, adalah karena Anda
memang tidak mencoba menggantinya. Anda, hanya mengungkapkan apa yang
Anda rasakan. Mulai sekarang, cobalah untuk menggantinya dengan yang
lebih positif. Itulah yang akan membuat Anda mampu bangkit.
Saat pikiran negatif mulai berseliweran di kepala Anda, segeralah
terapkan pada diri Anda sendiri sebuah teknik yang disebut dengan
"Hapus dan Ganti". Ucapkan "Hapus dan Ganti" itu dengan tegas kepada
diri Anda sendiri.
"Saya memang bodoh."
"Hapus itu. Ganti dengan..."
Lanjutkan kalimat itu dengan:
"Saya telah gagal dan salah. Sekarang saya tahu yang lebih baik, maka
saya akan melakukan yang lebih baik."
JANGAN HUKUM ORANG YANG TAK BERSALAH
Willie Jollie pernah mengatakan "the past is a place of reference; not
a place of residence." Kebanyakan orang yang jatuh dan terpuruk,
secara bertubi-tubi menghukum diri mereka sendiri. Mereka membiarkan
dirinya bertempat tinggal di masa lalu.
Mungkin saja Anda masih menyesali dan menangisi, apapun kesalahan yang
telah terlanjur terjadi di masa lalu. Kesalahan kemarin, kegagalan
minggu lalu, jatuhnya bisnis setengah tahun lewat, hancurnya hidup
Anda dua tahun belakangan, dan seterusnya. Dan Anda, mungkin masih
melanjutkan penghukuman pada diri sendiri sampai dengan hari ini.
Ketahuilah, Anda telah menghukum orang yang salah.
Ketahuilah, Anda yang kemarin dan Anda hari ini adalah dua manusia
yang berbeda. Anda yang lalu telah gagal dan bersalah, tapi Anda yang
hari ini telah berhasil belajar dan berubah. Anda yang hari ini adalah
korban tak berdosa. Ia sama sekali tidak bersalah. Dan jika Anda tetap
menghukumnya, maka Anda telah semena-mena.
Jangan hukum orang yang tak bersalah.
Jika Anda telah mengatakan "Sekarang saya tahu yang lebih baik, dan
saya akan melakukan yang lebih baik", maka berilah maaf pada diri Anda
yang hari ini. Itulah yang lebih baik, yang akan membuat segalanya
menjadi lebih baik.
Bagaimana jika Anda yang di masa lalu masih dihukum oleh orang lain?
Ingatlah bahwa...
PENDAPAT ORANG TIDAK HARUS MENJADI REALITAS ANDA
Anda yang sekarang adalah bukan Anda yang lalu. Anda yang sekarang
adalah Anda yang telah berhasil belajar dari masa lalu.
Maka jika orang lain melewatkan kesempatan untuk memanfaatkan apa yang
Anda punya hari ini, jika mereka melupakan kemampuan Anda sekarang,
jika mereka tak memandang keahlian dan bakat Anda saat ini, jika
mereka meremehkan kehebatan Anda kini, ketahuilah, bahwa merekalah
yang telah merugi, dan Anda tidak sama sekali.
Apa yang perlu Anda katakan kepada diri Anda sendiri adalah "Beberapa
akan, beberapa tidak akan, so what, next."
"Beberapa kesempatan dan peluang akan terbuka untuk saya. Beberapa
mungkin tidak. So what. Apa berikutnya?"
Teruslah bergerak. Mengapa? Sebab...
GAGAL TIDAKLAH PERMANEN KECUALI ANDA BERHENTI
Berita jelek: Sukses tidak permanen. Setelah Anda mencapainya, Anda
harus terus berupaya agar tetap di sana.
Berita bagus: Gagal juga tidak permanen, kecuali seseorang memutuskan
untuk berhenti.
Berhentilah sebentar saja untuk melakukan evaluasi. Gunakanlah kembali
prinsip-prinsip dalam tips ini. Kemudian, fokuslah pada kesempatan dan
peluang berikutnya yang sudah mengantri di hadapan Anda.
Next please!
KESEMPATAN BARU MENYEMBUHKAN LUKA LAMA
Inilah pentingnya terus bergerak. Sebab setiap kesempatan baru yang
Anda songsong, sangat berpeluang menjadi obat. Coba Anda resapi puisi
yang saya buat untuk Anda hari ini.
Seseorang telah terluka
Segera setelah ia mengalami, duduklah ia terdiam
di pojok gelap menyendiri merasakan perihnya
Tak lama kemudian, mulailah ia menjilati lukanya,
berharap ia sembuh segera
Terus ia lakukan dengan penuh harap di bawah bayang-bayang sisa
kepedihannya
Setelah waktu berlalu, seseorang kemudian datang membuka pintu
Cahaya terang menerobos menyiram bekas lukanya
Ia mengajak, mari keluar mari bermain
Ayo kita temui seseorang, dan kita bersenang-senang
Just like that
and the fun begins again!
Hal yang persis sama, bisa juga bekerja untuk kegagalan dan
keterpurukan Anda. Jangan hanya duduk terdiam dan menjilati luka.
Tataplah sekeliling Anda untuk berbagai kesempatan dan peluang baru.
Diposting oleh
Muhidin Saimin
di
11.24
0
komentar
Label: Renungan
10 Indikasi "Gagal Meraih Keutamaan Ramadhan”
Rabu, September 19, 2007
Source : *Majalah Tarbawi*
Edisi 15, Th. 2/31 Desember 2000.
*** Email dari KPLI Bogor by Gibransyah (thanks yah) ***
PERTAMA, ketika kurang optimal melakukan "warming up Edengan memperbanyak ibadah dibulan Sya'ban. Ibarat sebuah mesin, memperbanyak ibadah di bulan Sya'ban berpungsi sebagai pemanasan bagi ruhani dan fisik untuk memasuki bulan Ramadhan. Berpuasa sunnah, memperbanyak ibadah shalat, tilawah Al-Qur'an sebelum Ramadhan. akan menjadikan suasana hati dan tubuh kondusif untuk pelaksanaan ibadah di bulan puasa. Dengan begitu, puasa, ibadah malam, memperbanyak membaca Al-Qur'an, berdzikir, taqarrub kepada Allah, menjadi lebih lancar. Mungkin, itulah hikmahnya kenapa Rasulullah SAW dalam hadits riwayat 'Aisyah, disebutkan paling banyak melakukan puasa di bulan Sya'ban. Bahkan sejak bulan Rajab, dua bulan menjelang Ramadhan, beliau sudah mengajarkan doa kepada para sahabatnya, "Allaahumma bariklanaa fii Rajaba wa Sya'ban, wa balighna Ramadhana. Ya Allah, berkahilah kami dalam bulan Rajab dan Sya'ban, dan sampaikanlah usia kami pada bulan Ramadhan. Rasulullah dan para sahabat ingin mengkondisikan jiwa dan fisik mereka untuk siap menerima kehadiran tamu agung bulan Ramadhan.
KEDUA, ketika target pembacaan Al-Qur'an yang dicanangkan minimal satu kali khatam, tidak terpenuhi selama bulan Ramadhan. Di bulan ini, pembacaan Al-Qur'an merupakan bentuk ibadah tersendiri yang sangat dianjurkan. Pada bulan inilah Allah SWT menurunkan wahyunya dari Lauhul Mahfudz kelangit dunia. Peristiwa ini disebut sebagai malam lailatul qadar.. Pada bulan ini pula Malaikat Jibril biasa mengulang-ulang bacaan Al-Qur'an kepada Rasulullah SAW. Orang yang berpuasa dibulan ini, sangat dianjurkan memiliki wirid Al-Qur'an yang lebih baik dari bulan-bulan selainnya. Kenapa minimal harus dapat mengkhatamkan satu kali sepanjang bulan ini? Karena itulah terget minimal pembacaan Al-Qur'an yang diajarkan oleh Rasulullah SAW. Ketika Abdullah bin Umar bertanya kepadanya, "Berapa lama sebaiknya seseorang mengkhatam Al-Qur'an? Rasul menjawab, Satu kali dalam sebulan. Abdullah bin Umar mengatakan, "Aku mampu untuk lebih dari satu kali khatam dalam satu bulan. Rasul berkata lagi, "Kalau begitu, bacalah dalam satu pekan. Tapi Abdullah bin Umar masih mengatakan bahwa dirinya masih mampu membaca seluruh AL-Qur'an lebih cepat dari satu pekan. Kemudian Rasul mengatakan, "Kalau begitu, bacalah dalam tiga hari.”
KETIGA, Ketika berpuasa tidak menghalangi seseorang dari penyimpangan mulut seperti membicarakan keburukan orang lain, mengeluarkan kata-kata kasar, membuka rahasia, mengadu domba, berdusta dan sebagainya. Seperti yang sudah banyak diketahui, hakikat puasa tidak terletak pada menahan makanan dan minuman masuk masuk kedalam kerongkongan. Tapi puasa juga mengajak pelakunya untuk bisa menahan diri dari berbagai penyimpangan, salah satu yang dilakukan oleh mulut. Rasulullah SAW menyatakan bahwa dusta akan menjadikan puasa sia-sia. (HR. Bukhari). Mulut merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sukar untuk di kembalikan namun nilainya sangat mahal. Rasulullah berpesan, adakalanya kalimat buruk yang ringan diucapkan oleh seseorang, tapi karena Allah tidak ridha dengan kalimat itu, maka orang itu tercampak ke dalam neraka. Sebaliknya adakalanya kalimat baik yang ringan diucapkan oleh seseorang, tapi karena Allah ridha dengan kalimat itu, orang tersebut dimasukan ke dalam surga. (HR. Ahmad)
KEEMPAT, ketika puasa tak bisa menjadikan pelakunya berupaya memelihara mata dari melihat yang haram. Mata adalah penerima informasi paling efektif yang bisa memberi rekaman kedalam otak dan jiwa seseorang. Memori informasi yang tertangkap oleh mata, lebih sulit terhapus ketimbang informasi yang diperoleh oleh indra yang lainnya. Karenanya, memelihara mata menjadi sangat penting untuk membersihkan jiwa dan pikiran dari berbagai kotoran. Salah mengarahkan pandangan, bila terus berulang akan menumbuhkan suasana kusam dan tidak nyaman dalam jiwa dan pikiran. Ini sebabnya mengapa Islam mewasiatkan sikap hati-hati dalam menggunakan nikmat mata. Puasa yang tak menambah pelakunya lebih memelihara mata dari yang haram, menjadikan puasa itu nyaris tak memiliki pengaruh apapun dalam perbaikan diri. Karenanya, boleh jadi secara hukum puasanya sah, tapi substansi puasa itu tidak akan tercapai.
KELIMA, ketika malam-malam Ramdhan menjadi tak ada bedanya dengan malam-malam selain Ramadhan. Salah satu ciri khas bulan Ramadhan adalah, Rasulullah menganjurkan umatnya untuk menghidupkan malam dengan shalat dan do'a-do'a tertentu. Ibadah shalat di bulan Ramadhan yang biasa disebut shalat tarawih, merupakan amal ibadah khusus di bulan ini. Tanpa menghidupkan malam dengan ibadah tarawih, tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga. Selain itu di dalam shalat ini pula Rasulullah SAW mengajarkan do'a-do'a khusus yang insya Allah akan dijadikan oleh Allah SWT. Di antara do'a-do'a yang perlu diperbanyak dalam shalat tarawih adalah, "Allaahumma inni as aluka ridhaaka wal jannah wa na'udzubika min sakhatika wan naar. Ya Allah aku memohon keridhaan-Mu dan surga-Mu. Dan aku mohon perlindungan dari kemarahan-Mu dan dari neraka-Mu...”
KEENAM, jika saat berbuka puasa menjadi saat melahap semua keinginan nafsunya yang tertahan sejak pagi hingga petang. Menjadikan saat berbuka sebagai kesempatan "balas dendam dari upaya menahan lapar dan haus selama siang hari. Bila ini terjadi, berarti nilai pendidikan puasa akan hilang. Puasa, pada hakikatnya, adalah pendidikan bagi jiwa (tarbiyatun nafs) untuk mampu mengendalikan diri dan menahan hawa nafsu. "Puasa itu adalah perisai Esabda Rasulullah SAW seperti diriwayatkan Imam Bukhari. Hanya dalam puasalah, seseorang dilarang melakukan perbuatan yang sebenarnya halal dilakukan. Hasil
pendidikan itu, akan tercermin dalam pribadi orang-orang yang lebih bisa
bersabar, menahan diri, tawakal, pasrah, tidak emosional, tenang dalam menghadapi berbagai persoalan. Puasa menjadi kecil tak bernilai dan lemah dalam unsur pendidikannya ketika upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsu yang
dihempaskan saat terbuka.
KETUJUH, ketika bulan Ramadhan tidak dioptimalkan untuk banyak mengeluarkan infaq dan shadaqah. Rasulullah SAW seperti digambarkan dalam hadits, menjadi sosok yang paling murah dan dermawan di bulan Ramadhan, hingga kedermawanannnya itu mengalahkan angin yang bertiup. Di bulan inilah, satu amal kebajikan bisa bernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat di banding bulan-bulan lainnya. Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh disia-siakan. Keyakinan yang dikembangkan itu yang dikembangkan oleh para sahabat dan selalu shalih.
KEDELAPAN, ketika hari-hari menjelang idul fitri sibuk dengan persiapan lahir, tapi tidak sibuk dengan memasok perbekalan sebanyak-banyaknya pada 10 malam terakhir untuk memperbanyak ibadah. Lebih banyak berfikir untuk bisa merayakan idul fitri dengan berbagai kesenangan, tapi melupakan suasana akan berpisah dengan bulan mulia tersebut. Rasulullah dan para shabat mengkhususkan 10 hari terakhir untuk berdiam didalam masjid, meninggalkan semua kesibukan duniawi. Mereka memperbanyak ibadah, dzikir dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan, saat diturunkannya Al-Qur'an. Pada detik-detik terakhir menjelang usainya Ramadhan , mereka merasakan kesedihan mendalam karena harus berpisah dengan mulia itu. Sebagian mereka bahkan menangis karena akan berpisah dengan bulan mulia.
KESEMBILAN, ketika Idul Fitri dan selanjutnya dirayakan laksana hari "merdeka dari penjara untuk melakukan berbagai penyimpangan. Fenomena ini sebenarnya hanya akibat dari pelaksanaan puasa yang tidak sesuai dengan adabnya. Orang yang berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhan sebagai kerangkeng.
KESEPULUH, setelah Ramadhan, nyaris tidak ada ibadah yang ditindak lanjuti pada bulan-bulan selanjutnya. Misalnya memelihara kesinambungan puasa sunnah, shalat malam, membaca Al-Qur'an. Amal-amal ibadah satu bulan Ramadhan, adalah bekal pasokan agar ruhani dan keimanan seseorang meningkatkan untuk menghadapi sebelas bulan setelahnya. Namun, orang akan gagal meraih keutamaan Ramadhan, saat ia tidak berupaya menghidupkan dan melestarikan amal-amal ibadah yang pernah ia jalankan dalam satu bulan.[*]
penasaran nih.....
Diposting oleh
Muhidin Saimin
di
15.07
0
komentar
Label: KPLI Bogor, Renungan
Dialog Rasulullah dengan Iblis bagian 2
Kamis, Agustus 30, 2007
Lanjutannya ......
Bersambung ...... ke bagian 3
diambil dari Millist suraukita, dikmenjur, smapluspgri
Diposting oleh
Muhidin Saimin
di
15.12
0
komentar
Label: Renungan
Dialog Rasulullah dengan Iblis bagian 1
Iblis menjawab dengan panjang lebar, "Apakah engkau tidak tahu wahai Muhammad, bahwa orang yang masih suka dirham dan dinar (harta) adalah belum bisa murni
diambil dari millist suraukita, dikmenjur, smapluspgri penasaran nih.....
Diposting oleh
Muhidin Saimin
di
15.02
0
komentar
Label: Renungan




